<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Endy J Kurniawan &#187; Ekonomi Makro</title>
	<atom:link href="http://endyjkurniawan.com/category/ekonomi-makro/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://endyjkurniawan.com</link>
	<description>Think Dinar!</description>
	<lastBuildDate>Tue, 14 May 2013 14:31:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>memahami makna &#8220;investasi hakiki&#8221;</title>
		<link>http://endyjkurniawan.com/2013/05/14/memahami-makna-investasi-hakiki/</link>
		<comments>http://endyjkurniawan.com/2013/05/14/memahami-makna-investasi-hakiki/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 May 2013 01:27:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Endy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Perak]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endyjkurniawan.com/?p=786</guid>
		<description><![CDATA[Saat signing buku &#8220;Think Dinar&#8221; dan &#8220;Think Gold&#8221; saya senang sekali menuliskan &#8216;pesan&#8217; berbunyi &#8220;selamat memulai investasi hakiki&#8221;. Apa makna sebenarnya? Apakah investasi hakiki masih valid disematkan pada emas dan perak? Apalagi saat ini. Sebagian investor logam mulia sedang galau. Emas dan perak seperti kehilangan tenaga. Mereka yang risau ini biasanya adalah investor logam mulia pemula [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2013/05/TurkeyFlag.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-787" title="TurkeyFlag" src="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2013/05/TurkeyFlag-300x237.jpg" alt="" width="300" height="237" /></a>Saat signing buku &#8220;Think Dinar&#8221; dan &#8220;Think Gold&#8221; saya senang sekali menuliskan &#8216;pesan&#8217; berbunyi<em><strong> &#8220;selamat memulai investasi hakiki&#8221;</strong></em>. Apa makna sebenarnya? Apakah investasi hakiki masih valid disematkan pada emas dan perak? Apalagi saat ini. Sebagian investor logam mulia sedang galau. Emas dan perak seperti kehilangan tenaga. Mereka yang risau ini biasanya adalah investor logam mulia pemula atau investor lama tapi bermain di pasar komoditas yang mengharapkan keuntungan jangka pendek dari transaksi maya.</p>
<p>Mari kita mulai kuliti dengan membahas &#8220;lawan&#8221; dari emas dan perak yaitu uang kertas. Uang kertas selalu menemui masalah ketika ditakar nilainya dengan benda dan jasa. Ini seperti menimbang apel di satu sisi timbangan dengan kertas di sisi timbangan yang lain. Apel tak pernah berubah banyak beratnya. Untuk membuatnya setimbang, perlu tumpukan kertas yang sangat banyak. Bahkan karena kertas itu dibuat makin tipis dan tak bermutu, perlu kertas yang terus lebih banyak lagi. Demikian kondisi uang kertas saat ini yang terus kehilangan daya beli. Perlu makin banyak uang untuk membeli benda yang sama meski di lembaran uang ditulis angka-angka yang semakin membesar. Angka yang tertulis itulah yang disebut nominal. Itulah ilustrasi dari inflasi yang kita alami sebagai bagian tak terpisahkan dan bumbu ekonomi. Daya beli beda lagi. Daya beli adalah nilai benda itu jika dipertukarkan dengan benda lain. Inilah yang sebaliknya secara stabil dimiliki emas dan perak. Nilai keduanya bisa saja tak naik tinggi, tapi tetap berharga untuk ditukar dengan barang dan jasa. Nilai keduanya bahkan secara konsisten naik melebihi inflasi, sehingga siapa pun yang menyimpan asetnya tidak pernah merasa rugi. Untuk menggambarkan ini, Al-Ghazali dengan sederhana menyebut emas dan perak &#8220;Bukanlah harga, tapi menjadi cermin yang mengambarkan harga-harga.&#8221;</p>
<p><a href="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2013/05/us_gold_reserves.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-788" title="us_gold_reserves" src="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2013/05/us_gold_reserves-300x233.png" alt="" width="300" height="233" /></a>Mari kita lanjutkan dengan fakta lain seputar emas (dan perak) sebagai &#8220;lawan&#8221; dari uang kertas yaitu depresiasi. Depresiasi adalah penurunan nilai tukar sebuah mata uang ketika diperbandingkan dengan mata uang negara lain, terutama <em>reserve currency</em> yang jadi patokan internasional seperti US$, Euro, atau Yen. Musibah besar yang terjadi di seputar nilai tukar ini misalnya pada 1997-1998 di mana Indonesia menjadi korban terbesar dari Krisis Moneter. Rupiah terjungkal lima kali ke bawah. Apa saja yang ditakar dengan US Dollar seperti utang, barang modal impor, termasuk emas menjadi 5 kali lebih mahal. Tak hanya itu, bursa saham rontok dan depresiasi Rupiah terhadap USD telah memicu hiperinflasi dan barang-barang lokal menjadi delapan kali lipat lebih mahal, dari inflasi normal 10% menjadi hampir 80%. Emas ketika itu tak mengalami kenaikan harga di pasar internasional, tetapi karena ditakar dalam US$ (US Dollar per Troy Ounce), maka nilainya naik 2,5 kali lipat dari Rp27.000 per gram menjadi Rp87.000 per gram. Apa yang kita simpan dalam bentuk investasi terutama di sektor keuangan tak sepi dari pengaruh depresiasi. <em>Return</em> di atas inflasi, misalkan 20%, di saat yang sama harus menghadapi penurunan nilai tukar rupiah hingga 30%, akan menyebabkan investasi kita tak mampu membeli atau ditukar barang apa pun alias kehilangan nilainya.</p>
<p><a href="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2013/05/china-flag.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-789" title="china-flag" src="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2013/05/china-flag-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Pada berbagai laporan belanja emas banyak negara, Turki, Kazakhstan, Korsel, Irak dan Cina adalah yang paling banyak menambah cadangan emasnya sejak 2012. Termasuk saat emas sedang turun 2-3 minggu lalu? Ada apa? Tentu alasannya kuat. Apalagi jika bukan untuk melawan kelabilan cadangan devisa dalam bentuk mata uang asing. Karena kepercayaan akan kekuatan emas (dan perak) sebagai alat simpan yang hakiki. Yang selalu punya makna dan arti.</p>
<p><strong><em>Follow @endykurniawan  di Twitter dan baca buku &#8220;Think Gold &#8211; A-Z Investasi Emas&#8221; untuk belajar bagaimana &#8220;Membeli Masa Depan dengan Harga Hari Ini&#8221;</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endyjkurniawan.com/2013/05/14/memahami-makna-investasi-hakiki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>menggeser kiblat harga emas dunia</title>
		<link>http://endyjkurniawan.com/2013/03/14/menggeser-kiblat-penggerak-harga-emas-dunia/</link>
		<comments>http://endyjkurniawan.com/2013/03/14/menggeser-kiblat-penggerak-harga-emas-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Mar 2013 08:13:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Endy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endyjkurniawan.com/?p=736</guid>
		<description><![CDATA[Berbeda dengan barat, masyarakat belahan timur bumi lebih menganggap emas dan perak sebagai alat simpan dalam jangka panjang, lambang kemakmuran dan uang yang bisa dipertukarkan. Ini disebabkan hubungan historis dengan apa yang terjadi dahulu di wilayah ini, misalnya : Tahun 1091 sebelum masehi Cina mulai melegalkan penggunaan emas sebagai uang. Ini berlanjut hingga sekarang, saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbeda dengan barat, masyarakat belahan timur bumi lebih menganggap emas dan perak sebagai alat simpan dalam jangka panjang, lambang kemakmuran dan uang yang bisa dipertukarkan. Ini disebabkan hubungan historis dengan apa yang terjadi dahulu di wilayah ini, misalnya :</p>
<ul>
<li>Tahun 1091 sebelum masehi <strong>Cina</strong> mulai melegalkan penggunaan emas sebagai uang. Ini berlanjut hingga sekarang, saat sistem moneter bukanlah <em>‘gold standards’ </em>tapi Cina adalah penyimpan emas terbesar ke-5 dengan 1.054 ton. Masyarakatnya adalah penyimpan emas terbesar ke-2 dibawah India dengan 811 ton pada akhir 2011. Selama 2001-2007 Cina menderegulasi pasar dan saat ini memproduksi emas sangat besar, setara dengan seluruh produksi wilayah Amerika Utara dijadikan satu.</li>
<li><strong>India</strong> memiliki tradisi menggunakan emas yang diwariskan dari agama Hindu yang kemudian mewujud dalam praktek upacara pernikahan dan adat upacara lain di negaranya. Kebiasaan ini juga menular ketika Hindu berasimilasi juga dengan agama Budha saat terekspansi memasuki wilayah Sri Lanka, Kamboja, Vietnam dan Thailand dan wilayah Asia Tenggara lainnya termasuk Indonesia dan Malaysia. Warga keturunan India dimanapun adalah konsumen fanatik emas. Saat ini, masyarakat India mengkonsumsi 933 ton emas per tahun terutama dalam bentuk perhiasan.</li>
<li><strong>Wilayah Nusantara</strong> (Malaysia, Indonesia dan Borneo) selain berinteraksi dengan Hindu dan notabene mewariskan kebiasaan mengkonsumsi emas, bahkan menjadikan koin emas menjadi simbol negara/ kerajaan seperti di Majapahit dan Sriwijaya, juga berinteraksi dengan kekhalifahan Islam yang menyentuh Aceh hingga Maluku sehingga mengenal koin perak dan koin emas sebagai alat tukar. Pada abad 19, Belanda harus memaksa pedagang-pedagang di wilayah Maluku untuk menerima uang kertas sebagai uang legal yang mereka tetapkan.</li>
</ul>
<p><a href="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2013/03/Asias-Gold-Driver.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-737" title="Asia's Gold Driver" src="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2013/03/Asias-Gold-Driver-300x229.jpg" alt="" width="300" height="229" /></a>Hingga saat ini, wilayah timur dunia ini tetap dalam kebiasaannya. Mengkonsumsi emas di harga berapapun juga dengan cara paling sederhana : membeli emas fisik dengan segala bentuknya. Tahun 2012 lalu Antam mencatatatkan kenaikan permintaan sebesar 4 ton. Ada pergeseran permintaan emas yang luar biasa dalam 10 tahun terakhir : pada 2002 Cina dan India adalah konsumen emas besar dengan ‘hanya’ menyumbang 25%. Pada 2012 dua raksasa ini menguasai permintaan emas dunia dengan 47%.</p>
<p>Secara geografis, wilayah Pasifik menguasai permintaan emas retail dunia sebesar 58,1% dalam bentuk perhiasan, koin dan batangan dengan Indonesia menempati posisi ke-7. Yang menarik, dari 10 negara di wilayah Pasifik pengkonsumsi emas retail terbesar dunia itu, enam diantaranya mengalami penurunan konsumsi emas perhiasan dan mengalami lonjakan permintaan dalam bentuk koin dan batangan. Apakah ini bermakna kesadaran berinvestasi masyarakat Asia-Pasifik makin tinggi? Tampaknya ya, dimana perhiasan sendiri tidak terlalu tepat dikatakan investasi, berbeda dengan koin dan batangan.</p>
<p><a href="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2013/03/2010-2011-Pacific-Region-Gold-Demand2.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-740" title="2010-2011 Pacific Region Gold Demand" src="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2013/03/2010-2011-Pacific-Region-Gold-Demand2-300x250.png" alt="" width="300" height="250" /></a></p>
<p>Sebagai akibatnya, terlihat jelas sejak 2009 permintaan Asia yang terus naik telah mendorong harga emas dunia dengan grafik yang beriringan dengan permintaan emas di Asia. Banyak analis sepakat, saat ini kiblat pergerakan harga logam mulia adalah di Asia. Lebih penting mengamati apa yang terjadi di Cina, India dan Korea dibanding Amerika dan Eropa untuk memprediksi arah harga emas. Jika akan diperluas, maka Timur Tengah dan wilayah teluk bisa juga menjadi acuan kedua, dimana setelah Arab Spring negara-negara disana (Tunisia, Mesir, Iran) mulai menambah cadangan devisa emasnya melalui suplai dari Turki.</p>
<p>Yang terjadi di masyarakat barat adalah pragmatisme, mereka “keluar-masuk” tergantung trend. Mereka memandang logam mulia investasi semata dimana harus menghasilkan return optimal dari trend dan pergerakannya. Berbeda dengan di wilayah timur seperti yang diuraikan di bagian awal tadi. Lihat trend di US permintaan terus turun sebesar 17% baik dalam bentuk fisik emas perhiasan, emas batangan dan koin sepanjang 2010-2011. Meski ini tak terjadi di cadangan emas The Fed yang tetap bertahan di angka 8.133 ton pada Februari 2012.</p>
<p><a href="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2013/03/Gold-Price-Rise-as-Asia-Gold-Demand.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-741" title="Gold Price Rise as Asia Gold Demand" src="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2013/03/Gold-Price-Rise-as-Asia-Gold-Demand-300x178.png" alt="" width="300" height="178" /></a>Pada kuartal I tahun ini, bank syariah-bank syariah bergantian meluncurkan program kepemilikan emas dengan akad murabahah (program cicilan kepemilikan emas) yang dulu sempat lahir kemudian mati suri. Ini akan melejitkan permintaan emas retail di Indonesia. Jika satu Bank Syariah menetapkan target pembiayaan murabahan emas sebesar 500 Milyar (sekitar 1 ton emas) pada tahun ini, maka akan ada tambahan permintaan sekitar 5 ton emas dari 5 penyedia jasa ini. Itu baru dari bank syariah, belum dari pembelian melalui program serupa di Pegadaian dan pembelian langsung masyarakat ke toko, agen dan outlet emas.</p>
<p>Meski perbankan mungkin bukan ada di pihak yang harus mendukung meluasnya penguasaan emas oleh individual, tapi mereka dan penentu kebijakan tak bisa menghentikan minat emas masyarakat Indonesia yang makin ‘rakus’. Sebagaimana India dan kebanyakan negara Asia pada masyarakatnya. Seperti Cina pada bank sentralnya.</p>
<div id="attachment_751" class="wp-caption alignright" style="width: 197px"><a href="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2013/03/Cover-Think-Gold1.jpg"><img class="size-medium wp-image-751" title="Cover Think Gold" src="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2013/03/Cover-Think-Gold1-187x300.jpg" alt="" width="187" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Pre Order SMS ke 081514010700 - fresh bertanda tangan</p></div>
<p><em><strong>Follow @endykurniawan di Twitter untuk belajar ilmu investasi logam mulia. Also follow @nabung_emas dan @salma_dinar</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endyjkurniawan.com/2013/03/14/menggeser-kiblat-penggerak-harga-emas-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>redenominasi tak harus ditakuti, tapi&#8230;</title>
		<link>http://endyjkurniawan.com/2013/01/29/redenominasi-tak-harus-ditakuti-tapi/</link>
		<comments>http://endyjkurniawan.com/2013/01/29/redenominasi-tak-harus-ditakuti-tapi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jan 2013 00:14:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Endy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endyjkurniawan.com/?p=663</guid>
		<description><![CDATA[Redenominasi makin merebak dibicarakan. Maklum makin dekat untuk jadi kenyataan. Disebutkan bahwa tahun 2011-2013 adalah tahap sosialisasi (sudah dilakukan). Tahun 2013 &#8211; 2015 adalah masa transisi (uang baru mulai keluar). Tahun 2016-2019 adalah masa penarikan perlahan uang dengan nominal lama. Dan terakhir tahun 2019-2022 adalah masa peredaran uang dengan nominal dan penampakan baru. Thn ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2013/01/Redenominasi.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-664" title="Redenominasi" src="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2013/01/Redenominasi-300x157.png" alt="" width="300" height="157" /></a>Redenominasi makin merebak dibicarakan. Maklum makin dekat untuk jadi kenyataan. Disebutkan bahwa tahun 2011-2013 adalah tahap sosialisasi (sudah dilakukan). Tahun 2013 &#8211; 2015 adalah masa transisi (uang baru mulai keluar). Tahun 2016-2019 adalah masa penarikan perlahan uang dengan nominal lama. Dan terakhir tahun 2019-2022 adalah masa peredaran uang dengan nominal dan penampakan baru.</p>
<p>Thn ini RUU redenominiasi selesai, masuk ke tahap pembahasan lalu terbit UU. Tahun depan sudah beredar uang Rp baru dg hilangkan 3 angka 0. Selama 5 tahun sampai dengan 2018 uang Rp lama beredar bersama yang baru. Perlu dicatat bahwa ini adalah fase kritis terkait kesimpang-siuran harga.</p>
<p>Sebagian besar kita mencurigainya seperti sanering (pemangkasan nilai uang). Padahal bukan. Meski tetap, ada beberapa resiko yang harus dikelola agar penyederhanaan nominal uang Indonesia bisa sesukses Turki, Polandia dan beberapa negara lainnya.</p>
<p>Redenominasi adalah mengurangi angka nol, bukan mengurangi nilai uang. Uang tabungan kita berkurang angka nol-nya, demikian juga dengan harga-harga. Redenominasi juga tidak ada hubungannya dengan jumlah uang yang dicetak dan beredar, melainkan penyederhanaan angka/ nominal utk kemudahan. Artinya fenomena moneter dimana inflasi terjadi karena pencetakan uang baru bukan isyu disini.</p>
<p>Bicara positifinya, langsung bisa terlihat di nilai tukar Rp thd mata uang asing dan Rp. Rupiah kita akan terlihat gagah di hadapan mata uang lain terutama US$ (1 US$ jadi Rp9,6 saja). Pencatatan di rekening bank jadi lebih simple, akibatnya lebih hemat space/ bytes, tinta dan lainnya.</p>
<p>Diluar rencana pemerintah &amp; Bank Indonesia yang jelas memerlukan banyak biaya itu, ongkos paling besar justru di sosial (simpang siurnya harga terutama saat masa transisi), pasar uang gelap &amp; mark-up harga yang sangat mungkin terjadi.</p>
<p>Yang paling perlu diantisipasi saat proses redenominasi adalah angkauan informasi/ sosialisasi ke seluruh wilayah Indonesia yg sangat luas &amp; menyebar. Banyak lokasi tak terjangkau informasi, banyak wilayah di Indonesia belum terhubung satu sama lain. Ada impak sosial redenominasi disini.</p>
<p>Resiko ekonomi misalnya, pembulatan harga ke atas sehingga mendorong inflasi. Contohnya? Sebungkus permen semula Rp3000, redenominasi jadi Rp3. Ah susah harga Rp3, bulatkan Rp5 aja, inflasi 70%. Kopi se-sachet Rp1500, redenominasi jadi Rp1,5. Kata pedagang, naikkan aja ah jadi Rp2. Inflasi 30% terjadi. Yang seperti ini perlu kontrol sangat ketat.</p>
<p>Selain itu, resiko sosial redenominasi adalah daerah remote yang jauh dari informasi terlambat mengadaptasi harga barang. Nilai uang sudah turun 3 digit, penjual tetap pasang harga semula. Pembeli harus bayar barang dengan harga lama dengan uang baru, semata karena masyarakat tak mendapat informasi yang cepat. Adanya dua jenis uang yang beredar pada saat bersamaan (Rp lama dan Rp baru) juga bisa memicu pasar gelap mata uang. Money exchanger bisa merebak dimana-mana dan perlu ‘diamankan’.</p>
<p>Ketidak tahuan, dampak psikis dan keragu-raguan di tengah masyarakat adalah sasaran sosialisasi yang utama. Jangankan di pelosok desa, di kota besar ada developer perumahan yang pasang iklan &#8220;Beli rumah sekarang, mumpung belum redenominasi&#8221;, artinya mereka memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat tentang beda sanering dan redenominasi.</p>
<p>Kita perlu belajar dari Turki melakukan redenominasi, menghilangkan 6 digit dalam TR (Turky Lira) yang memakan waktu 7 tahun. Kunci suksesnya adalah ekonomi sedang stabil dan sosialisasi yg cepat &amp; meluas. Demikian juga negara-negara yang sukses lainnya seperti Rumania, Polandia dan Ukraina.</p>
<p>Kita juga perlu belajar dari Rusia, Argentina, Zimbabwe, Korea Utara, dan Brasil. Sebagian besar gagal disebabkan guncang politik ekonomi dalam negerinya ketika proses redenominasi dilakukan. Seperti di Rusia, pemerintah yang tidak legitimate di mata masyarakat menyebabkan kekacauan karena hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap uangnya sendiri, ujunya memicu inflasi dan nilai tukar yang anjok terhadap US$.</p>
<p>Lalu bagaimana pengaruh redenominasi terhadap harga emas? Hampir tidak ada kecuali inflasi (bahkan hyperinflasi) akibat kekacauan ekonomi menyebabkan harga naik tinggi, kemudian berimpak ke harga komoditas termasuk emas. Semoga ini tak terjadi.</p>
<p>Terakhir, apa yang kita pelajari dari redenominasi dari kacamata uang hakiki? Redenominasi memberitahu kita bahwa dalam uang kertas ada nominal &amp; ada daya beli, dua hal yang sama sekali berbeda. Redenominasi adalah soal administrasi, mengatur nominal lebih sederhana lagi. Sementara daya beli uang (purchasing power) adalah soal nilai tukar uang terhadap barang-barang. Ketika redenominasi sukses (dan kita doakan demikian), sendal Rp10.000 akan jadi Rp10. Setahun kemudian, sendal itu akan jadi Rp11 atau naik 10% karena inflasi, itu soal lain lagi.</p>
<p><strong><em>Follow @endykurniawan di Twitter. Also follow @salma_dinar &amp; @nabung_emas untuk informasi investasi logam mulia</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endyjkurniawan.com/2013/01/29/redenominasi-tak-harus-ditakuti-tapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>gigi emas penolongku</title>
		<link>http://endyjkurniawan.com/2012/08/24/gigi-emas-penolongku/</link>
		<comments>http://endyjkurniawan.com/2012/08/24/gigi-emas-penolongku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Aug 2012 14:22:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Endy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[eropa]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endyjkurniawan.com/?p=595</guid>
		<description><![CDATA[“People are never happy to sell, but now they come in with anything: gold, silver, old stuff, new stuff. I would say we have twice as many customers a day as we did a year ago” Jika kita lihat isi berita seolah tak terjadi apa-apa di level ekonomi negara-negara di Eropa, maka yang terjadi di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>“People are never happy to sell, but now they come in with anything: gold, silver, old stuff, new stuff. I would say we have twice as many customers a day as we did a year ago”</em></p>
<p>Jika kita lihat isi berita seolah tak terjadi apa-apa di level ekonomi negara-negara di Eropa, maka yang terjadi di masyarakat level menengah ke bawah adalah sebaliknya. Kita melihat industri olahraga Eropa misalnya tak tersentuh krisis. Liga sepakbola dan kompetisi olahraga di Italia, Spanyol, Perancis, Portugal, Inggris bergulir seperti biasa, bahkan makin gegap gempita. Tapi memang demikian tabiat kapitalisme yang menyisakan jurang sangat dalam antara golongan paling kaya dengan golongan yang tertinggal jauh di bawahnya.</p>
<p>Saya berinteraksi dengan seorang muslim warga Antwerpen, Belgia ketika menjalankan itikaf di tanah Haram akhir Ramadhan lalu dan menangkap pesimisme tentang pulihnya ekonomi Eropa. Ia yang seorang engineer di perusahaan produsen mesin ATM pernah mencoba berinvestasi di kertas berharga tapi rugi terus setahun terakhir sejak krisis Eropa. Ia insyaf sambil berjaga-jaga untuk krisis yang belum akan usai dalam waktu dekat dan ingin belajar bagaimana masyarakat Indonesia menyimpan aset dalam bentuk emas.</p>
<p><a href="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2012/08/Compro-Oro.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-596" title="Compro Oro" src="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2012/08/Compro-Oro-300x239.jpg" alt="" width="300" height="239" /></a>Dalam perjalanan kembali ke tanah air saya membaca artikel di harian Arab News yang sangat menarik, tentang melemahnya ekonomi level menengah di Italia (dan Eropa umumnya) yang kemudian ingin saya bagi lebih banyak melalui posting ini. Disebutkan seorang supervisor tiket bus di Roma, Italia bernama Valerio Novelli menjual gigi emas tuanya untuk menopang hidup : <em>“I know I won’t get much, but I need the money”</em></p>
<p>Di Italia, bisnis pembelian emas dari orang-orang yang putus asa dan butuh uang penyambung hidup sedang <em>booming</em>. Saat ini ada 28.000 outlet di seluruh Italia. Dimana-mana terpampang di depan toko dadakan itu <strong>“COMPRO ORO”</strong> yang artinya “Kami beli emas Anda”. Pengusaha jual-beli emas ini mengatakan senang di tengah krisis yang sedang menimpa : <em>“Business is very good, you can really feel the crisis”.</em></p>
<p><a href="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2012/08/compro-oro-oro-aguilera_1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-597" title="compro-oro-oro-aguilera_1" src="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2012/08/compro-oro-oro-aguilera_1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Ivana Ciabatti seorang perajin emas-perak mengatakan : “Sejak kami kecil, emas adalah pemberian favorit dalam berbagai acara (termasuk pembaptisan) tapi semua orang bilang ‘abaikan saja’. Dulu kami mentertawakan emas tapi sekarang terbukti, banyak keluarga di Italia yang bisa bertahan hidup dan harus mengatakan <strong>terimakasih kepada emas yang mereka punya</strong>”</p>
<p><em>Sumber : Laporan Reuters pada harian Arab News edisi 3 Syawal 1433H, judul asli : Crisis-Hit Italians Selling Gold Jewelry to Make Ends Meet</em></p>
<p><em>Follow @endykurniawan untuk interaksi di Twitter. Untuk investasi emas tunai maupun tabungan silakan follow @salma_dinar dan @nabung_emas</em></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endyjkurniawan.com/2012/08/24/gigi-emas-penolongku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kombinasi investasi emas dan properti (2)</title>
		<link>http://endyjkurniawan.com/2012/07/30/kombinasi-investasi-emas-dan-properti-2/</link>
		<comments>http://endyjkurniawan.com/2012/07/30/kombinasi-investasi-emas-dan-properti-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jul 2012 18:23:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Endy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[Financial Planning]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endyjkurniawan.com/?p=583</guid>
		<description><![CDATA[Pada tulisan bagian awal kita telah bahas skenario kolaborasi investasi antara emas dan properti. Yang pertama kombinasi emas sebagai penghancur hutang (debt eliminator), dimana ini cocok bagi yang telah menjalankan KPR dan ingin melunasi hutang KPR nya dengan lebih cepat. Selain itu, emas juga bisa menjadi debt eliminator bagi yang memiliki dana lebih dari DP [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tulisan bagian awal kita telah bahas skenario kolaborasi investasi antara emas dan properti. Yang pertama kombinasi emas sebagai penghancur hutang (debt eliminator), dimana ini cocok bagi yang telah menjalankan KPR dan ingin melunasi hutang KPR nya dengan lebih cepat.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2012/07/Screen-shot-2012-07-31-at-1.08.14-AM.png"><img class="size-thumbnail wp-image-584 aligncenter" title="Screen shot 2012-07-31 at 1.08.14 AM" src="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2012/07/Screen-shot-2012-07-31-at-1.08.14-AM-150x150.png" alt="" width="200" height="200" /></a></p>
<p>Selain itu, emas juga bisa menjadi debt eliminator bagi yang memiliki dana lebih dari DP yang diperlukan KPR di awal. Kenaikan nilai emas per tahun yang lebih tinggi dari margin KPR akan menjadi sebab kita bisa lunasi hutang KPR lebih cepat pula.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2012/07/Screen-shot-2012-07-31-at-1.08.22-AM.png"><img class="size-thumbnail wp-image-585 aligncenter" title="Screen shot 2012-07-31 at 1.08.22 AM" src="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2012/07/Screen-shot-2012-07-31-at-1.08.22-AM-150x150.png" alt="" width="200" height="150" /></a></p>
<p>Di bagian ini kita membahas cara memiliki rumah dengan tabungan emas. Memiliki rumah jadi lebih mudah dan murah, tanpa batasan lokasi dan administratif. Solusi ini sebetulnya jawaban berbagai persoalan yang ada di masyarakat ketika akan memiliki rumah, yaitu:</p>
<ol>
<li>Mampu tapi tak ‘bankable’. Yaitu kuat secara finansial tapi pernah lalai mencicil hutang di bank atau objek kredit lain</li>
<li>Mampu tapi berada di luar wilayah Republik Indonesia. Misalnya karena berbisnis atau bekerja di luar negeri</li>
<li>Mampu tapi tak disiplin menyisihkan dana untuk DP KPR, sehingga tak kunjung mengawali KPR-nya</li>
<li>Sibuk dengan berbagai urusan, dokumen KPR belum lengkap, proses bank yang lama sementara harga rumah keburu naik</li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><a href="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2012/07/Screen-shot-2012-07-30-at-11.43.55-PM.png"><img class="size-thumbnail wp-image-586 aligncenter" title="Screen shot 2012-07-30 at 11.43.55 PM" src="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2012/07/Screen-shot-2012-07-30-at-11.43.55-PM-150x150.png" alt="" width="200" height="200" /></a></p>
<p>Alternatif pertama adalah dengan menabung emas untuk DP rumah dilanjutkan KPR. Misalkan harga rumah adalah 235juta, DP minimal adalah 47,08 juta atau setara dengan 95 gram emas. Dengan mengikuti program Nabung Emas, DP cukup dengan 14,42 juta kemudian sisanya Rp 5,56 juta dicicil selama 6 bulan berikutnya. Sambil proses menabung emas tersebut, investor bisa mempersiapkan diri untuk mengurus KPR sehingga pada saat berakhir periode 6 bulan, cicilan untuk KPR bisa mulai berjalan. Dengan cara ini juga, harga rumah terkunci di depan (dimana biasanya harga rumah naik setiap 4 bulan sekali sekitar 5%). Investor juga tak perlu memusingkan mengkonversi emas menjadi Rupiah ketika pelunasan DP, karena developer bersedia menerima setoran emas tersebut tanpa diawali konversi.</p>
<p>Alternatif kedua adalah tanpa KPR sama sekali, diganti menabung emas periodik per 6 bulan dengan objek cicilan 100 gram. Jadi setelah selesai dengan alternatif pertama di atas, lanjutkan lagi menabung emas. Demikian seterusnya. Harga rumah Rp245 juta diatas bisa lunas dalam 6 x 6 bulan atau 3 tahun saja. Pada setiap akad tentu ada kenaikan harga emas dan nasabah perlu menyesuaikan diri, tapi upaya ini seimbang dengan kemudahan yang terjadi : solusi pemilikan rumah tanpa properti.</p>
<p>Follow @endykurniawan untuk tips investasi emas.<br />
Follow @salma_dinar untuk berinvestasi tunai dalam bentuk emas batangan, Dinar dan Dirham<br />
Follow @nabung_emas untuk mulai menabung emas, nabung yang bikin untung. Bisa digunakan untuk pemilikan properti, apply di www.nabungemas.salmadinar.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endyjkurniawan.com/2012/07/30/kombinasi-investasi-emas-dan-properti-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>emas, oeang boejoet saja dari doeloe </title>
		<link>http://endyjkurniawan.com/2012/03/11/emas-oeang-boejoet-gue-dari-doeloe%e2%80%a8/</link>
		<comments>http://endyjkurniawan.com/2012/03/11/emas-oeang-boejoet-gue-dari-doeloe%e2%80%a8/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Mar 2012 23:35:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Endy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Peradaban]]></category>
		<category><![CDATA[dinar]]></category>
		<category><![CDATA[dirham]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[emas islam]]></category>
		<category><![CDATA[perak]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah emas]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endyjkurniawan.com/?p=535</guid>
		<description><![CDATA[Umat manusia tidak mengenal alat tukar apapun selain uang perak dan uang emas, baik dalam bentuk hard currency maupun gold backup money. Lima mata uang hard currency Aerus Romawi, Solidus Romawi, Numisma atau Bezant dari Bizantium (Romawi Timur), Dinar &#8211; Dirham Islam dan Ducat Venesia dipergunakan secara internasional melintas batas peradaban mereka sendiri mulai dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2012/03/honorius-gold-4288a.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-536" title="honorius-gold-4288a" src="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2012/03/honorius-gold-4288a-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Umat manusia tidak mengenal alat tukar apapun selain uang perak dan uang emas, baik dalam bentuk <strong><em>hard currency</em> </strong>maupun <strong><em>gold backup money</em></strong>. Lima mata uang <em>hard currency</em> Aerus Romawi, Solidus Romawi, Numisma atau Bezant dari Bizantium (Romawi Timur), Dinar &#8211; Dirham Islam dan Ducat Venesia dipergunakan secara internasional melintas batas peradaban mereka sendiri mulai dari satu abad sebelum Masehi hingga permulaan abad ini.</p>
<p>Sebelumnya, tujuh abad SM, uang emas digunakan dengan berbagai standar kandungan di Lydia secara terbatas. <strong>Alexander ‘The Great’</strong> (356-323 SM) menyatukan Macedonia dengan mata uang perak tunggal. <strong>Julius Caesar </strong>mengembalikan mata uang Romawi menjadi uang emas setelah terjadi manipulasi ekonomi rakyat oleh pengusa sebelumnya. <strong>Alexander Hamilton</strong> (1755-1804) bendahara pertama negeri Amerika memperkenalkan standar emas untuk uang negaranya. Wajah Hamilton bisa dijumpai di uang US$10, sementara George Washington, bapak negara pertama Amerika yang mengangkat Hamilton hanya ‘nampang’ di US$1.</p>
<p><strong>Napoleon</strong> menetapkan uang Prancis dengan standar emas, lalu ia jadi kaisar legendaris. <strong>Lenin</strong> mengendalikan hiperinflasi Rusia dengan standar emas. Juga <strong>Mao Tse-tung</strong> di Cina. Pada 1949, pemerintahan penguasa Amerika di Jepang menetapkan standar emas untuk negeri jajahanannya. Tiga tahun kemudian, Jepang memutuskan menjadi sekutu abadi negara yang telah membom atomnya, Amerika, hingga saat ini.</p>
<p>Sejarawan Islam, <strong>Ibn Muhammad Al Maqrizi</strong> (1364-1442) mengatakan : “Tidak pernah diperolah suatu berita dari umat manapun yang mengatakan bahwa mereka telah membuat mata uang dari selain emas dan perak, baik pada masa terdahulu maupun pada masa sekarang”. Apa yang dikatakan Maqrizi terbukti bahkan hingga 4 abad setelahnya sebelum <strong>Richard Nixon</strong>, pada 15 Agustus 1970 menciptakan petaka moneter dunia dengan keluarnya Smithsonian Agreement yang mempersilakan motif barbar Amerika berjalan mulus dengan uang dicetak suka-suka tanpa dikaitkan dengan cadangan emas.</p>
<p>Ketika muncul pertanyaan apakah dunia siap dengan kembalinya mata uang emas, praktek di banyak negara membuktikan satu per satu pembuktiannya. India, Venezuela dan Iran bersedia bertransaksi dengan alat bayar emas untuk komoditas dunia seperti minyak bumi dan cokelat. Di Afrika Selatan dan Malaysia, di Kesultanan Kelantan, Dinar dan Dirham telah jadi medium transaksi sehari-hari. Indonesia masih terus berlatih membiasakan diri.</p>
<p>Banyak negara, melalui bank sentral masing-masing, punya kepentingan untuk menyimpan kekayaan negaranya dalam bentuk emas. Apapun motifnya, baik untuk berjaga-jaga akan kehancuran uang kertas maupun pengendalian harga emas dunia semata, pada September 1999 European Central Bank (ECB) dan 11 bank sentral di Eropa, juga bank sentral Swiss, Inggris dan Swedia menyepakati Washington Agreement untuk tidak menjual 2000 ton emas cadangan mereka dalam 5 tahun. Pada 2004 kesepakatan ini diperbarui dengan 15 bank sentral utama dengan mengikat negara-negara minor lainnya dengan pelarangan penjualan emas lebih besar dalam 5 tahun yaitu 2.500 ton.</p>
<p>Sekali lagi ini menguatkan apa yang dikatakan <strong>Imam Al-Gazali </strong>bahwa “Allah telah menciptakan emas dan perak sebagai hakim yang adil, cerminan harga-harga dan penyimpan kekayaan yang hakiki”</p>
<p>*) Referensi :<br />
- The Golden Constant, Roy W. Jastram &amp; Jill Leyland, EE Publishing, 1977<br />
- Gold, The Once &amp; Future Money, Nathan Lewis, Agora, 2007<br />
- Wikipedia</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endyjkurniawan.com/2012/03/11/emas-oeang-boejoet-gue-dari-doeloe%e2%80%a8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>the golden constant (bagian 2 : penguasaan atas emas, satu langkah maju ke kejayaan masa lalu)</title>
		<link>http://endyjkurniawan.com/2011/09/27/the-golden-constant-bagian-2-penguasaan-atas-emas-satu-langkah-maju-ke-kejayaan-masa-lalu/</link>
		<comments>http://endyjkurniawan.com/2011/09/27/the-golden-constant-bagian-2-penguasaan-atas-emas-satu-langkah-maju-ke-kejayaan-masa-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Sep 2011 06:22:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Endy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endyjkurniawan.com/?p=474</guid>
		<description><![CDATA[Kabar baik bagi kita adalah dari seluruh emas yang telah ditambang di muka bumi yakni sekitar 150.000 – 160.000 ton, 70% &#8211; 90% dikuasai swasta, termasuk individu/ perorangan. World Gold Council menyebut angka sekitar 100.000 ton emas dikuasai swasta, pada 2005. Sementara sisanya dikuasai oleh 109 negara sebagai cadangan di bank sentral-nya. Laporan lembaga yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2011/09/gold-mountain.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-475" title="gold-mountain" src="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2011/09/gold-mountain-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Kabar baik bagi kita adalah dari seluruh emas yang telah ditambang di muka bumi yakni sekitar 150.000 – 160.000 ton, 70% &#8211; 90% dikuasai swasta, termasuk individu/ perorangan. World Gold Council menyebut angka sekitar 100.000 ton emas dikuasai swasta, pada 2005. Sementara sisanya dikuasai oleh 109 negara sebagai cadangan di bank sentral-nya. Laporan lembaga yang sama pada September 2010 menyebutkan jumlahnya sekitar 27.000 ton.</p>
<p>Sebagaimana tulisan pada bagian pertama pekan lalu, penguasaan mayoritas stok emas dunia oleh non-pemerintahan ini adalah salah satu sebab mengapa kembalinya gold-standard sebagaimana era Bretton Woods diprediksi sulit terwujud. Menurut Martin Wolf, analis ekonomi senior The Financial Times, proses akuisisi emas masyarakat ini akan memakan berbagai macam biaya yang luar biasa dan bisa menimbulkan kekacauan.</p>
<p>Jauh lebih mungkin, jika saatnya tiba, terjadi pertukaran langsung emas-emas simpanan masyarakat untuk transaksi sehari-hari. Jumlah 100.000 ton yang beredar adalah jumlah yang sangat banyak. Seandainya pun tak dalam bentuk koin yang standard, masyarakat cukup menggunakan emas dalam bentuk apapun, disertai timbangan untuk pengukur berat. Praktek ini sebagaimana jaman awal Rasulullah SAW bertransaksi menggunakan emas, alat transaksinya adalah emas dalam berbagai bentuk (koin, lempengan/ tibr) dan telah mencukupi.</p>
<p>Kita tahu, emas adalah bahasa transaksi universal. Kita pernah bahas sebelumnya, salah satu item survival kit pilot tempur Amerika adalah sepotong emas. Kawan saya Ahmad Gozali, ketika sesi workshop investasi emas sering menyampaikan penggalan sebuah film dengan setting di sebuah negara komunis. Prajurit Amerika yang perlu tumpangan tak bisa membayarnya dengan US Dollar karena penduduk setempat tak tertarik mata uang asing itu. Tapi deal terjadi setelah si agen bersedia membayarnya dengan jam tangan terkenal berlapis emas.</p>
<p>Selama 1500 tahun kejayaan Islam menerangi bumi, ekonomi kekhalifahan berada di standar yang sangat tinggi. Bahkan menjelang rapuh dan runtuhnya kekhalifahan Turki Ustmani sekalipun, indeks harga dan kesejahteraan warga negaranya masih lebih baik dari Inggris yang berdiri sejaman.</p>
<p>Kemanapun reformasi moneter ini membawa nanti, kita perlu bersiap diri dari kini. Perhatikan grafik 10 besar penguasa emas dunia pada gambar. Dari 10 negara yang memiliki cadangan emas terbesar, hanya 3 negara yaitu China, Rusia dan Amerika sendiri yang juga merupakan 10 besar negara penghasil emas. Selebihnya adalah negara-negara barat non-produsen emas, yang dengan disiplin dan kesadaran penuh, mereka tahu tapi diam-diam saja, justru menyimpan harta hakiki itu dalam dekapan negaranya, meskipun dalam keseharian mereka terlihat sibuk mengkampanyekan anti-gold standard.</p>
<p>Dari grafik, kita juga bisa menyimpulkan satu hal yakni kecilnya kesadaran negara-negara penghasil emas utama untuk mempertahankan emas yang ditambang dan diolah di negaranya sendiri, sehingga tak cukup menyimpan untuk pertahanan ekonomi negaranya. Mereka memilih untuk menjadi penambang dan eksportir, tapi tak menjadikan emas sebagai cadangan ekonomi negaranya, kecuali sedikit saja.</p>
<p>Negeri ini seharusnya memberi penghargaan kepada masyarakat yang secara individual berupaya menyimpan emas di rumah tangganya masing-masing, yang jika dijumlahkan akan menghasilkan angka simpanan emas yang sangat besar dan mengindikasikan ketahanan ekonomi riil masyarakat Indonesia. Seandainya warga negara yang hidup di atas ambang kemiskinan (artinya secara ekonomi cukup mampu) yaitu 70% dari total penduduk Indonesia memiliki 1 gram emas, maka jumlah emas minimal yang dimiliki rakyat Indonesia berjumlah 168 ton. Angka ini telah 2 kali lipat lebih dibanding cadangan emas yang dimiliki bank sentral.</p>
<p>Seandainya 1 orang menguasai 1 Dinar (emas dengan berat 4.25 gram), maka cadangan emas yang berada di kantung masyarakat Indonesia berjumlah 714 ton. Dijumlahkan dengan cadangan devisa Bank Indonesia yang sekitar 75 ton, maka Indonesia akan berada di posisi ke-8 penyimpan emas mengalahkan Jepang.</p>
<p>Sosialisasi penguasaan emas ke tangan masyarakat ini, bagi saya pribadi, adalah upaya pertahanan sekaligus persiapan menyongsong masa depan. Pertahanan untuk melindungi harta dan asset masyarakat. Persiapan masa depan untuk sebuah reformasi (mungkin juga revolusi, gerakan perubahan radikal) sistem moneter dunia dengan medium emas, juga perak. Seluruh negara dan masyarakat negara lain, secara terbuka maupun diam-diam melakukannya dengan penuh kesadaran. Sebagai negara dengan cadangan emas melimpah, mengapa kita tidak melakukan hal serupa?</p>
<p>Dengan jumlah cadangan emas yang memadai, ekonomi negeri kita punya sandaran hakiki, layak adu tanding dengan dengan negara-negara ekonomi kuat lainnya. Ini jadi modal yang cukup untuk menopang prediksi banyak riset yang menunjukkan Indonesia akan berada dalam posisi 10 besar ekonomi terkuat dunia pada 2020 dan 5 besar pada 2030.</p>
<p>Wallahua&#8217;lam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endyjkurniawan.com/2011/09/27/the-golden-constant-bagian-2-penguasaan-atas-emas-satu-langkah-maju-ke-kejayaan-masa-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>the golden constant (bagian 1 : bretton woods (mungkin) tak kembali)</title>
		<link>http://endyjkurniawan.com/2011/09/23/the-golden-constant-bagian-1-bretton-woods-mungkin-tak-kembali/</link>
		<comments>http://endyjkurniawan.com/2011/09/23/the-golden-constant-bagian-1-bretton-woods-mungkin-tak-kembali/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Sep 2011 03:01:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Endy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endyjkurniawan.com/?p=471</guid>
		<description><![CDATA[Berapa banyak uang beredar di muka bumi? Laporan McKinsey Global Institute pada 2008 menyebut angka USD 61.000 Trilyun. Karena dirilis tahun 2008, maka itu berarti tak termasuk rentetan stimulus yang kemudian diakhiri dengan USD 600 Milyar yang sebulan lalu dikeluarkan Amerika melalui The Fed. Berapa nilai emas yang ada di muka bumi? Sekitar USD 1.300 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2011/09/bretton_woods_1020.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-472" title="bretton_woods_1020" src="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2011/09/bretton_woods_1020-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Berapa banyak uang beredar di muka bumi? Laporan McKinsey Global Institute pada 2008 menyebut angka USD 61.000 Trilyun. Karena dirilis tahun 2008, maka itu berarti tak termasuk rentetan stimulus yang kemudian diakhiri dengan USD 600 Milyar yang sebulan lalu dikeluarkan Amerika melalui The Fed.</p>
<p>Berapa nilai emas yang ada di muka bumi? Sekitar USD 1.300 Trilyun. Saya tak mention dengan rupiah karena sulit menuliskan satuannya. Terlalu panjang angka nolnya.</p>
<p>Dua angka tersebut membawa kita ke masa 1944 – 1971 dimana Gold Standard diberlakukan dengan payung Bretton Woods Agreement. Kala itu dimana 35 Dollar yang dicetak/dikeluarkan bank sentral Amerika haruslah dengan backup 1 troy ounce emas, uang yang beredar adalah kurang lebih sama dengan nilai emas yang ada di bank sentral di seluruh dunia.<br />
Yang terjadi sekarang adalah jumlah uang kertas telah dicetak 46 kali lebih banyak dari yang seharusnya (USD 61.000 Trilyun dibagi nilai emas USD 1.300 Trilyun). Inilah makna FIAT MONEY itu, uang kertas dicetak sangat banyak, suka-suka, tanpa mencerminkan jumlah kekayaan atau asset riil berupa emas yang dimiliki negara-negara yang disimpan bank sentral masing-masing.</p>
<p>Akibatnya adalah keuntungan dinikmati si pencetak reserved currency (USD). Stagnansi ekonomi yang mereka alami, sebagaimana terjadi sekarang dimana produksi dan konsumsi dalam negerinya mandeg, yang kemudian membuat mereka mencetak uang baru, hanya (mungkin) menguntungkan di sisi mereka. Mungkin, karena belum tentu stimulus ini berhasil mengangkat ekonomi dalam negerinya. Yang justru pasti adalah seluruh negara berlomba menurunkan nilai mata uangnya demi bisa bersaing untuk pasar ekspornya. Yang pasti lagi adalah membuka kemungkinan hyperinlasi terjadi di negara-negara berkembang yang tak tahu menahu, bahkan mungkin tak terlibat awalnya dengan pertarungan ekonomi tingkat tinggi tersebut. Yang jadi korbannya adalah kesejahteraan masyarakat di negara berkembang, karena hyperinlasi berarti menurunnya daya beli uang simpanan mereka sebanyak 2 digit persen.</p>
<p>Selain itu, biaya 4 sen Dollar (atau 0.04 Dollar) untuk mencetak setiap lembar USD itu pun bermakna perampokan. Stempel berapapun bisa dicantumkan di lembaran uang kertas, lalu dibuat untuk membeli lebih banyak asset di negara-negara miskin atau berkembang. Untuk membeli sebuah perusahaan teknologi di Indonesia dengan nilai Rp 5 Trilyun (USD 561 juta), hanya perlu mencetak uang pecahan USD sebanyak 5,61 juta lembar dengan biaya 4 sen x 5,61 juta = USD 22 juta sen, atau sama dengan USD 220.000. Disini praktek SEIGNORAGE bekerja. Untuk membeli perusahaan senilai Rp 5 Trilyun, produsen USD hanya perlu Rp 1,9 Milyar biaya cetak uang.</p>
<p>Data tentang nilai uang riil (yaitu emas) vs nilai uang (kertas) yang ada sekarang itulah yang membuat banyak ekonom meragukan Bretton Woods jilid II yang diwacanakan Robert Zoellick, bos World Bank, mustahil terlaksana. Karena jumlah uang beredar sudah sedemikian besar melebihi yang seharusnya, implementasi Gold Standard Currency seperti pernah dipraktekkan dulu akan membawa kompleksitas sistem global. Simpanan setiap bank sentral juga tak seimbang. Semenjak Perang Dunia I, Amerika lah yang menyimpan emas paling banyak. Dengan situasi ini, harus ada negara yang rela seluruh harga barangnya naik. Di sisi lain, harus ada sebagian negara yang harus bersedia seluruh harganya diturunkan. Reposisi dan keseimbangan baru itu akan berbiaya sosial sangat besar, melibatkan seluruh negara dan masyarakat di dalamnya.</p>
<p>Salah satu sebab lain Bretton Woods sulit dijalankan adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh bank sentral untuk mengumpulkan emas domestik maupun internasional (sebagai backup pencetakan uang dengan standar emas) akan sangat besar. Dengan sistem ini, maka pemilik emas akan menjual emasnya kepada bank sentral, yang jelas memerlukan lebih banyak backup untuk pencetakan uang baru. Biayanya akan sangat besar, dan karena permintaan meningkat drastis, harga emas akan melonjak sangat tinggi. Ujungnya, pemilik emas bisa menilai harga yang ditetapkan tak setinggi yang seharusnya dan mereka memilih menyimpan saja emas-emas yang telah dimiliki. Wajar, karena sejak semula, emas adalah penakar nilai dan alat tukar yang universal, maka penyimpan emas merasa lebih safe dan untung jika menyimpan emas untuk melindungi asetnya juga untuk membeli barang kebutuhan. Pada titik ini terjadi kekacauan dan orang tak memerlukan lagi uang kertas, dan dunia kembali pada masa dimana emaslah yang menjadi alat transaksi. Inilah masa pada periode dengan rentang 1.500 tahun semenjak Dinar dan Dirham ditetapkan khalifah Umar ibn Khattab hingga runtuhnya kedaulatan Islam pada masa Turki Ustmani.</p>
<p>Uraian diatas dituliskan dengan gamblang oleh Martin Wolf, kontributor The Economist, seorang Profesor di University of Nottingham yang juga Chief Economics Commentator di Financial Times – London.</p>
<p>Pada sebuah tulisannya, ia mengutip juga pernyataan Bennett McCallum dari Carnegie Mellon University yang menyatakan bahwa kesadaran kembali ke alat tukar berupa emas (sebagaimana pada tahun-tahun sebelum 1930-an) diawali dengan tingkat pemahaman agama/ religiusitas yang cukup tinggi. Karena hanya ajaran agama saja yang memberikan penjelasan bahwa “nilai emas tidak pernah berubah, ia tetap dan terjaga selamanya’<strong> (the price of gold should not be varied but should maintained, forever). </strong></p>
<p>Dan kita tahu, Islam adalah agama yang melalui firman dalam Al-Quran dan hadits Rasulullah SAW, mengajarkan keyakinan ini kepada kita. Sejatinya, hal-hal seperti ini harus terus kita bangun mulai saat ini.</p>
<p>Bersambung…<br />
(Berikutnya : 90% emas di muka bumi ini ternyata dikuasai swasta, bukan oleh bank sentral. Ini kabar baik, lalu bagaimana sikap kita?)</p>
<p>*) Judul tulisan diambil dari buku dengan judul sama : “The Golden Constant: The English and American Experience 1560 – 2007, Roy W Jastram, Edward Elgar Publishing)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endyjkurniawan.com/2011/09/23/the-golden-constant-bagian-1-bretton-woods-mungkin-tak-kembali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>when old man talk, why doesn’t anybody listen?</title>
		<link>http://endyjkurniawan.com/2011/09/18/when-old-man-talk-why-doesn%e2%80%99t-anybody-listen/</link>
		<comments>http://endyjkurniawan.com/2011/09/18/when-old-man-talk-why-doesn%e2%80%99t-anybody-listen/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 09:44:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Endy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endyjkurniawan.com/?p=462</guid>
		<description><![CDATA[6 Oktober 2006, Alan Greenspan (pendahulu Ben Bernanke, Greenspan adalah Chairman The Fed periode 1987 &#8211; 2006) pernah mengatakan pada sebuah wawancara : “Because the gold market is so small, a very small segment of people are capable of driving up gold prices”. 1 Sekarang pasar emas tak lagi kecil, tapi driver harga tetap sekelompok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2011/09/alan-greenspan11.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-464" title="alan-greenspan1" src="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2011/09/alan-greenspan11-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>6 Oktober 2006, Alan Greenspan (pendahulu Ben Bernanke, Greenspan adalah Chairman The Fed periode 1987 &#8211; 2006) pernah mengatakan pada sebuah wawancara : <em>“Because the gold market is so small, a very small segment of people are capable of driving up gold prices”. </em><em>1</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Sekarang pasar emas tak lagi kecil, tapi <em>driver</em> harga tetap sekelompok orang saja.<em> </em>Jika ada kekhawatiran tentang spekulan emas yang kemudian membuat semua pihak begitu <em>concern</em> tentang demam emas di dalam negeri, terutama disuburkan dengan berbagi layanan lembaga keuangan syariah, pihak-pihak itu hendaknya mengetahui bahwa pelaku spekulasi emas yang nyata dan utama ada di barat. Spekulan emas besar adalah juga spekulan pasar uang dan modal besar, jumlahnya sedikit, <em>a very small segment of people</em>. Mereka <em>swing </em>dengan cepat dari spekulasi pasar finansial ke penguasaan fisik emas. Istilah <em>“gold is a safe haven”</em> dinisbatkan terhadap perilaku mereka. Emas dijadikan tempat berlabuh ketika ketidakpastian ekonomi yang diwakili krisis hutang di Eropa dan resesi ekonomi Amerika saat ini terjadi.</p>
<p>Benar adanya bahwa perlu aturan yang lebih <em>fair</em>, jelas dan tertata tentang praktek gadai emas oleh bank syariah misalnya. Juga koridor agar bank syariah tetap berpegang pada tujuan utama pendiriannya, diantaranya mendukung penuh permodalan sektor riil. Namun di satu sisi, kita juga perlu mensyukuri upaya penguasaan emas oleh individu di dalam negeri begitu tinggi. Kebijakan baru apapun dari otoritas moneter maupun pemerintah hendaknya tak menghalangi minat masyarakat untuk memakmurkan diri dan ikut menjadi penentu nilai emas dunia. Jika berbagai perangkat aturan itu kemudian diterapkan, misalnya dengan mengencangkan kran suplai emas ke masyarakat, penerapan layanan bank syariah yang rumit untuk pemilikan emas, maka terus-menerus kita menjadi masyarakat dan bangsa objek. Korban spekulasi segelintir orang dengan <em>buying power</em> fantastis di barat yang sedikit banyak mampu mengocok harga emas. Dengan iklim investasi emas yang mulai kondusif ini saja, jika dihubungkan dengan pernyataan Greenspan diatas, apa yang kita raih jauh sekali.</p>
<p>Saat ini, meski Indonesia nangkring di dalam <em>list</em> 10 besar penghasil emas terbesar dunia, kita bukan <em>big brother</em>. Bukan kita penentu supply-demand emas dunia. Berarti bukan kita pula penentu harga dan nilai emas itu sendiri. Maka juga berlebihan jika gejolak pada sisi supply maupun demand yang sering disebutkan akan mempengaruhi harga emas pada musim lebaran dan musim haji dijadikan patokan. Nilai transaksi emas dalam negeri kita terlalu kecil untuk memberikan pengaruh naik-turunnya emas dunia.</p>
<p>Konsumsi emas individual kita bahkan jauh dibawah Vietnam, Taiwan dan Thailand yang notabene negeri kecil, dan jelas bukan penghasil emas. Konsumsi individual Indonesia sekitar 37 ton tahun lalu. Sangat kecil jika dibandingkan dengan Taiwan yang mengumpulkan 85 ton, padahal jumlah penduduk kita 240 juta, dan kontribusi tambang emas hampir mencapai 10% dari total produksi dunia. Apalagi jika dibandingkan India yang mengkonsumsi hampir 1000 ton tahun lalu dengan penduduk ‘hanya’ 4 kali lipat Indonesia.</p>
<p>Tapi tersisa sebuah kabar baik. Lihat angka konsumsi individual India itu. Apa yang dikumpulkannya dalam setahun kira-kira 1/8 angka emas yang dikumpulkan bank sentral Amerika (The Fed) selama hampir seabad berdiri (The Fed diusulkan tahun 1908, dan benar-benar berdiri pada 1913). Jelas tampak di berbagai laporan, bahwa penguasa utama emas dunia bukanlah negara-negara melalui bank sentralnya. Penguasa emas adalah individu seperti kita (perhiasan 69% dan investasi 19%) diluar industri elektronika dan teknologi (12%). World Gold Council juga menguatkan data bahwa 90% emas yang telah berhasil ditambang saat ini dikuasai individu, dengan sisanya oleh bank sentral <em>2</em></p>
<p>Oleh sebab itu emas seringkali disebut pembebas dan lambang perlawanan terhadap eksploitasi dan invasi ekonomi, karena emas adalah aset riil yang tak bisa dipengaruhi dan dikuasai otoritas. Emas berada di kantong masyarakat, tetap dan terus berharga, dan manjadi aset hakiki. Bahkan bisa dan siap kapan pun menjadi alat transaksi, karena nilai berharganya secara universal diakui.</p>
<p><a href="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2011/09/Gold-Holding.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-465" title="Gold Holding" src="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2011/09/Gold-Holding-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Ada kabar baik lain yang bisa jadi <em>benchmark</em> :</p>
<ul>
<li>Perhatikan <em>chart</em> yang dirilis IMF. Jumlah cadangan emas yang dimiliki total seluruh bank sentral dunia terus menurun. Ini fakta yang menunjukkan makin melemahnya penguasaan negara terhadap emas, dan kendali ada pada masyarakat. Puncak penguasaan bank sentral terhadap emas adalah pada tahun 1964 ketika secara total terkumpul 1,2 Milyar troy ounce, terus turun hingga sekira 850 juta troy ounce pada 2006. Dalam 5 tahun terakhir, kontribusi bank sentral hanya 14% dari total suplai emas di pasar internasional (baca juga artikel saya yang berjudul : Bretton Woods (Mungkin) Tak Akan Kembali di <a href="http://www.salmadinar.com">www.salmadinar.com</a>) <em>3</em></li>
<li>Pada tahun 1970-an Afrika Selatan memberikan sumbangan 70% dari total suplai emas dunia, diikuti Rusia dan Kanada. Belakangan, petanya berubah. Mulai tahun 2000, Afrika Selatan hanya menyumbang 17%, diikuti Amerika (14%), Australia (11%) dan Cina, Kanada, Rusia, Indonesia, Peru mengikuti di kisaran 7-10%. Dan saat ini, berdasarkan laporan World Gold Council, negara-negara di setiap benua telah menyumbang produksi emasnya dengan merata dalam jumlah bervariasi <em>4</em></li>
</ul>
<p>Fakta-fakta diatas menunjukkan bahwa emas adalah aset, komoditas, dan simbol stabilnya daya beli yang sangat inklusif dan (seharusnya) ‘kita banget’. Pertambangan merata, pemilik individualnya juga mendunia. Jika emas disebut pembebas, maka berarti kekuatan pembebasan itu ada di tangan masyarakat. Bagaimana memperkokoh ketahanan ekonomi dengan memperbesar cadangan emas negara dan menaikkan daya tawar kita terhadap <em>supply-demand</em> emas dunia tergantung bagaimana <em>campaign dan policy</em>. Tujuannya untuk menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat dan pemerintah untuk kembali ke emas.</p>
<p>Pengkritik ‘demam emas’ yang saat ini terjadi di masyarakat sebaiknya belajar lebih banyak sejarah emas yang terbukti melintasi masa dan peradaban. Kalau mereka tak percaya saya, setidaknya mereka dengarkan kakek Greenspan, yang pada 1999 juga menegaskan pentingnya otoritas moneter menyadari pentingnya emas dengan mengatakan <em>“Gold still represents the ultimate form of payment in the world. Fiat money paper in extremis is accepted by nobody. Gold is alwyas accepted” </em><em>5</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>1 Alan Greenspan in interview with Sherry Cooper, Chief Economist of BMO Nesbitt Burns, October, 2006<br />
</em><em>2 Buy Gold Now, Shayne McGuire, Wiley, 2008<br />
</em><em>3 Gold The Once and Future Money, Nathan Lewis, Wiley, 2007<br />
</em><em>4 The Golden Constant, The English and American Experience 1560 &#8211; 2007, Roy W. Jastram &amp; Will Leyland, Edwar Elgar Publishing Limited, 1977<br />
</em><em>5 Alan Greenspan quotation from Holly Watt and Robert Winnett “Goldfinger Brown’s £2 Billion Blunder in the Bullion Market”, Sunday Times, Apr. 15, 2007</em></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endyjkurniawan.com/2011/09/18/when-old-man-talk-why-doesn%e2%80%99t-anybody-listen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat  Datang Alat Tukar Emas Global (2)</title>
		<link>http://endyjkurniawan.com/2011/07/17/selamat-datang-alat-tukar-emas-global-2/</link>
		<comments>http://endyjkurniawan.com/2011/07/17/selamat-datang-alat-tukar-emas-global-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jul 2011 22:49:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Endy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endyjkurniawan.com/?p=436</guid>
		<description><![CDATA[Bagian 2 : Gold is &#8216;tradition&#8217;, it&#8217;s not just money (sebelumnya, bagian 1 : In Gold We Trust, In Dollar we Fall) &#8220;Bukan, emas itu aset&#8221; Ben Bernanke terlihat antara pucat tanda bingung atau berbohong ketika ia ditanya Ron Paul, seorang anggota kongres Amerika tentang &#8220;Apakah emas itu uang&#8221;. Paul menanyakan lagi jika itu (emas) bukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2011/07/Ben-Bernanke.png"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-437" title="Ben Bernanke" src="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2011/07/Ben-Bernanke-150x150.png" alt="" width="150" height="150" /></a>Bagian 2 : Gold is &#8216;tradition&#8217;, it&#8217;s not just money<br />
(sebelumnya, bagian 1 : In Gold We Trust, In Dollar we Fall)</p>
<p>&#8220;Bukan, emas itu aset&#8221;<br />
Ben Bernanke terlihat antara pucat tanda bingung atau berbohong ketika ia ditanya Ron Paul, seorang anggota kongres Amerika tentang &#8220;Apakah emas itu uang&#8221;.<br />
Paul menanyakan lagi jika itu (emas) bukan (uang) dan sesuatu yang berharga, mengapa Anda (The Fed) menyimpannya. Mengapa Anda tak menyimpan berlian saja? Ben agak bingung, lalu menjawab <em><strong>&#8220;It&#8217;s just tradition&#8221;</strong></em> (itu tradisi semata).</p>
<p>The Fed, regulator keuangan dan bank sentral Amerika, badan yang dikepalai Ben Bernanke, yang terhubung serta berkait dengan seluruh bank sentral di negara-negara di dunia, pada 2010 tercatat menyimpan lebih dari 8.000 ton emas sebagai cadangan devisa. Jumlah itu melebihi cadangan IMF yang kira-kira separuhnya.</p>
<p>Dialog diatas ada di sebuah video berdurasi sekitar 5 menit dan baru saja posted di Youtube yang bisa Anda lihat dengan kata kunci pencarian <em>&#8220;Is Gold Money&#8221;</em> atau &#8220;Ron Paul vs Ben Bernanke&#8221;. Sebuah video yang direkam dari ruang audisi House of Financial Service Committee, di sepenggal kalimat yang diucapkan oleh Ron Paul, ia sebut pula bahwa<em> &#8220;money that create out of thin air&#8221;</em>. Ungkapan yang kita kenal selama ini sebagai &#8220;uang dari awang-awang&#8221; . Atau uang fiat/ fiat money yang bermakna &#8220;uang suka-suka&#8221;. Uang yang seharusnya mempunyai fungsi yang adil sebagai acuan harga benda-benda, saat ini diciptakan dari sesuatu yang tak berharga, yaitu uang kertas dengan motif tertentu dan banyak agenda.</p>
<p>Ketika mensosialisasi Dinar dan emas pada umumnya sebagai aksi penyelamatan kesejahteraan dan aset masyarakat, saya dan mungkin rekan-rekan lain sering menerima tuduhan bahwa upaya ini adalah Arabisasi moneter dan ekonomi. Posisi yang ditempatkan seolah perlawanan terhadap gagasan barat. Ini peristiwa lapangan baik di Twitter (pernah terjadi dialog dan adu argumentasi di Twitter tentang ini) bahkan juga pernah saya alami ketika berdialog live di radio. Tuduhan yang dangkal, pertama karena negeri-negeri di Arab tak mengimplementasikannya (sehingga tak bisa jadi kiblat dan acuan) untuk saat ini. Kedua adalah karena bukti empirik (penentang gagasan Back to Gold biasanya adalah pendukung gagasan-gagasan barat, mungkin juga pernah tinggal dan bersekolah disana) implementasi emas sebagai sandaran dan pengikat harga serta alat tukar adalah justru literatur-literatur barat, dan bukan timur tengah (baca : Arab). Jadi yang mereka kira sebagai  anti-barat sesungguhnya sejalan gagasan dengan apa yang diimplementasikan oleh barat sendiri.</p>
<p>Simpanan terbesar emas dunia saat ini berada di gudang dalam negeri  Amerika dan sekitar 7 negara Eropa yang notabene adalah lambang liberalisasi ekonomi yang anti emas. Ketika negara-negara tersebut menjadikan emas sebagai cadangan devisa hakiki, diluar mata uang populer lain selai US$, GBP, Euro dan JPY, apakah kita sedang menuduh mereka kuno, tradisional? Negara-negara besar itu juga mempermudah warganya untuk mengoleksi emas dengan mengurangi bea masuk dan menurunkan pajak sehingga simpanan individual rakyatnya meningkat pesat, apakah ini juga disebut langkah mundur ke belakang? Jika masyarakat Indonesia, yang saat ini sedang demam emas karena karena munculnya sebuah kesadaran kolektif tentang hancurnya mata uang yang kita punya menjadi tak berharga dan emas adalah penggantinya, juga &#8216;kesadaran belakangan&#8217; bank sentral kita untuk mengkonversi cadangan USD dan Euro ke dalam emas &#8211; disebut juga tradisional, maka silakan saja. Bermakna kita sama &#8216;mundur&#8217; dan puritan dengan negara barat, biarkan saja. Kita terima.</p>
<p>Sesuatu yang boleh &#8216;dituduhkan&#8217; juga ke negeri-negeri dengan percepatan ekonomi luar biasa seperti Cina dan India. Juga Turki yang kian makmur dan sejahtera (cadangan emas individual warga Turki, jika disatukan, hampir sama dengan separuh cadangan individual seluruh masyarakat Eropa dijadikan satu). Demikian juga terhadap Vietnam, negeri cabe rawit yang tak mau ketinggalan menyimpan emas besar-besaran. Simpanan individual masyarakat Indonesia hanya setengah dari simpanan masyarakat Vietnam yang mencapai 87 ton pada 2010.</p>
<p>Jika mata kita rela terbuka, sejarah penggunaan emas dan perak di Amerika dan Inggris sebagai alat tukar itu sejarah yang dekat sekali.  Bernanke benar ketika mengatakan bahwa menyimpan emas itu adalah sebuah tradisi, meski jawabannya tampak hanya untuk menghindari pengakuan bahwa &#8216;emas adalah uang&#8217;. Sehingga sesungguhnya jawaban bahwa emas adalah uang adalah sama benarnya dengan (menyimpan) emas sebagai sebuah tradisi (dari jaman kuno).</p>
<p>Di buku klasik Principles of Political Economy karya JS Mill yang terbit tahun 1848, dijelaskan bahwa upaya stabilisasi harga komoditas bisa dilakukan dengan memainkan cadangan emas di muka bumi. Ia menyebut <em>&#8220;essentially if the relative value of gold to other commodities was rising, there was an incentive to mine more gold&#8221;</em>. Karena indeks nilai komoditas, seluasnya (gandum, coklat, kapas, besi, gula, balsem, jahe, kambing, daging sapi) selalu seiring dengan emas. Jadi jika harga-harga naik, tambanglah lebih banyak emas agar harga kembali stabil, kata Mill. Dan nyata sejak 1.432 tahun lalu dimana 4.25 gram emas adalah setara dengan kambing terbaik. Empirik, dua fakta diatas saling menguatkan.</p>
<p>Belum fakta lainnya seperti :<br />
- nilai emas stabil, daya belinya nyaris tak berubah terhadap komoditas lain mulai abad 17 hingga kini. Pada abad 17, koin emas berjuluk byzant masuk dalam jumlah besar ke Inggris ketika kontak dagang Inggris &#8211; Turki (Utsmani) terjadi <em>(lihat The Golden Constant, The English and American Experience 1560-2007)</em><br />
- harga minyak yang stabil jika diukur dengan emas dan makin tinggi diukur dengan US$, EURO dan GBP mulai tahun 1950 hingga kini. Semenjak emas &#8216;dibebaskan&#8217; dari mata uang kertas pada tahun 1971, lonjakan harga minyak terjadi secara bervariasi hingga kini. Tapi tidak dalam emas. <em>Captured</em> grafik untuk fakta ini juga menjadi pic untuk tulisan pada bagian pertama kemarin.<br />
<a href="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2011/07/Gold1.png"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-438" title="Gold" src="http://endyjkurniawan.com/wp-content/uploads/2011/07/Gold1-150x150.png" alt="" width="150" height="150" /></a><br />
Tulisan bagian pertama menjelaskan bahwa waktu-demi-waktu, pencetakan uang yang sesukanya akan menghancurkan nilai uang itu sendiri, telah membuatnya tak dipercaya. Ketika tak dipercaya, permintaan terhadapnya akan turun. Ketika permintaan turun, maka ia tak perlu dicetak, karena toh tak diperlukan lagi sebagai penyimpan asset dan alat tukar. Masyarakat akan mecari pengganti. Dalam skenario ini,emas menjadi penggantinya. Kapan? Ketika nilai US$ begitu rendah sehingga perlu US$8.000 untuk membeli satu troy ounce emas, James Turk memperkirakan pada 2013-2015</p>
<p>Di akhir tulisan ini, kita ingin menegaskan kembali makna hakiki emas bagi umat manusia, yang disebut oleh Pierre Lasonde (Chairman World Gold Council 2005-2008) sebagai &#8216;<em>intimate relationship to humans</em>&#8216; sebab emas memenuhi kebutuhan untuk 2 hal : <strong><em>need for adornment</em></strong> (keindahan) and <strong><em>need for security</em></strong> (rasa aman).</p>
<p><em>And we, humans, have never been able to invent or creating anything that come close (<strong>to gold</strong>)</em>, tutupnya di prakata buku Golden Constant.</p>
<p>Wallahua&#8217;lam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endyjkurniawan.com/2011/07/17/selamat-datang-alat-tukar-emas-global-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
